Jurnalis9.com Cikahuripan, Agustus 2026 Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada 17 Agustus 2026 berlangsung dengan warna yang berbeda. Di tengah arak-arakan warga, tarian massal, musik, dan berbagai kostum, sebuah ogoh-ogoh berbentuk iguana hijau sepanjang sekitar 40 meter menjadi pusat perhatian.
Karya berukuran besar itu dibuat warga secara swadaya. Kepalanya dapat bergerak ketika diarak, sementara tubuhnya dibawa puluhan orang. Bagi Kepala Desa Cikahuripan Oman Haryanto, karya tersebut merupakan hasil kreativitas warga yang tumbuh tanpa instruksi pemerintah desa.
“Itu sebetulnya kreativitas masyarakat, tanpa disuruh sebetulnya,” kata Oman.
Pernyataan itu penting karena memperlihatkan sumber kekuatan karnaval tersebut. Pemerintah desa menyediakan ruang, tetapi gagasan dan tenaga sebagian besar datang dari masyarakat. Seluruh 10 RW di Desa Cikahuripan dilibatkan dalam kegiatan. Kreativitas warga pun tidak berhenti pada satu bentuk. Oman menyebut karya karnaval pada tahun-tahun sebelumnya pernah menampilkan karakter gorila dan bentuk lain yang terus berubah.

Dengan demikian, ogoh-ogoh iguana tidak perlu dibaca sebagai simbol keagamaan tertentu. Dalam konteks kegiatan kemerdekaan di Cikahuripan, karya tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai ekspresi seni masyarakat yang memanfaatkan bentuk visual berukuran besar untuk memperkuat daya tarik arak-arakan.
Karnaval juga memperlihatkan percampuran berbagai unsur budaya. Tarian massal berlangsung di jalan, sementara musik populer, termasuk “Gerong Koplo Bajidor”, mengiringi peserta. Busana daerah turut dikenakan oleh sejumlah peserta. Ketua TP-PKK Kecamatan Lembang Maya Ekawati, misalnya, mengenakan busana yang terinspirasi pakaian adat Batak dengan kain ulos, hiasan kepala, dan aksesori bernuansa emas yang dikreasikan secara modern.
Camat Lembang Bambang Eko mengapresiasi keterlibatan masyarakat tersebut. Ia melihat kerja sama perangkat desa dan warga sebagai kekuatan utama kegiatan. Bambang juga memberikan penghargaan kepada Maya yang memilih busana bernuansa budaya daerah sebagai bagian dari kehadirannya di tengah masyarakat.
“Acara sangat meriah, saya sangat bangga dan terhibur menjelang masa pensiun saya tahun depan. Masyarakat sangat berpartisipasi, kompak, antara perangkat Desa Cikahuripan dan masyarakat bersinergi,” ujar Bambang.

Ada cerita lain sebelum Bambang dan Maya tiba di lokasi karnaval. Pada pagi hari, keduanya mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di lingkungan Kecamatan Lembang. Upacara berlangsung khidmat. Bagi Bambang, peringatan tersebut menjadi kesempatan untuk menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga persatuan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap masyarakat.
Rangkaian peringatan tahun ini juga memiliki arti khusus bagi ibu-ibu PGRI yang tergabung dalam kelompok paduan suara. Mereka merasa terharu karena kembali menjalani kebersamaan dalam rangkaian peringatan HUT RI untuk kedua kalinya bersama Bambang. Tahun ini menjadi salah satu kebersamaan terakhir sebelum Camat Lembang tersebut memasuki masa purna tugas.
Di titik itu, karnaval Cikahuripan memiliki lapisan cerita yang lebih luas. Ia tidak hanya berbicara mengenai kemeriahan jalan desa, tetapi juga tentang hubungan antara aparatur pemerintahan dan masyarakat yang terbentuk melalui kegiatan bersama. Bagi seorang pejabat yang segera memasuki masa pensiun, suasana tersebut menjadi catatan personal sekaligus sosial dari perjalanan tugasnya.

Warga Cikahuripan, Ujang, melihat proses pembuatan ogoh-ogoh sebagai pengalaman penting bagi masyarakat. Biaya dan tenaga yang dikeluarkan secara swadaya, menurut dia, terbayar dengan kepuasan setelah karya tersebut selesai dan dapat dinikmati bersama.
“Saya bangga sebagai bagian dari masyarakat Cikahuripan yang kaya akan budaya, sangat-sangat kreatif. Semoga tahun berikutnya lebih ramai,” kata Ujang.
Karnaval memang dapat menjadi ruang ekspresi seni, tetapi keberhasilannya tidak semata ditentukan oleh jumlah penonton atau ukuran karya yang ditampilkan. Nilai yang lebih penting terletak pada kemampuan masyarakat membangun kerja sama. Dari pembuatan ogoh-ogoh hingga tarian dan kostum, terdapat proses sosial yang mempertemukan warga dalam satu pekerjaan bersama.
Desa Cikahuripan sendiri berada di kawasan kaki Gunung Tangkuban Parahu. Wilayah ini memiliki potensi wisata alam dan aktivitas luar ruang, termasuk kawasan perkemahan dan jalur pendakian. Potensi tersebut dapat menjadi modal tambahan bagi desa untuk mengembangkan kegiatan berbasis kreativitas masyarakat secara lebih terarah.

Namun, perkembangan karnaval juga perlu diikuti pengelolaan yang baik. Pertumbuhan jumlah peserta dan penonton membutuhkan perhatian terhadap keselamatan, lalu lintas, kebersihan, serta penggunaan ruang publik. Kreativitas warga perlu tetap berjalan beriringan dengan tata kelola agar kegiatan tidak menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat.
Oman berharap partisipasi warga semakin kuat pada tahun-tahun berikutnya. Ia menilai komunikasi pemerintah desa dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam menentukan arah kegiatan dan pembangunan sesuai kemampuan anggaran.

Pada akhirnya, karnaval Cikahuripan meninggalkan dua catatan. Pertama, kreativitas warga dapat menjadi kekuatan sosial ketika tumbuh dari gotong royong. Kedua, sebuah perayaan publik dapat memiliki makna personal bagi aparatur yang menjalani masa pengabdian. Ogoh-ogoh iguana mungkin menjadi karya yang paling mudah diingat dari karnaval tahun ini, tetapi kebersamaan warga dan perjalanan Bambang Eko menuju purna tugas menjadi cerita yang memberi kedalaman pada perayaan kemerdekaan di Lembang.
Reporter : Komala