SDN Karangtanjung Mendapat Revitalisasi, Lima Ruang Kelas dan Fasilitas Pendukung Diperbaiki

Jurnalis9.com Karangtanjung, 30 Agustus 2026 Revitalisasi SDN Karangtanjung, Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, menjadi bagian dari upaya pemerintah memperbaiki kualitas sarana pendidikan dasar. Pekerjaan yang dibiayai APBN Tahun Anggaran 2026 itu memiliki nilai anggaran Rp1.226.213.914.

Informasi mengenai proyek tersebut terpampang melalui papan pengumuman di lingkungan sekolah. Selain mencantumkan nilai anggaran dan sumber pembiayaan, papan itu menampilkan gambar teknis berupa denah bangunan, tampak depan, tampak samping, rancangan atap, serta sejumlah detail konstruksi. Informasi itu penting karena memberikan gambaran awal mengenai pekerjaan yang direncanakan dan membuka ruang bagi masyarakat untuk ikut mengawasi pelaksanaannya.

Bagi sekolah, revitalisasi datang ketika kebutuhan terhadap bangunan yang lebih layak masih menjadi bagian dari persoalan pendidikan sehari-hari. Arief, staf tata usaha SDN Karangtanjung, mengatakan kondisi bangunan sebelumnya memang membutuhkan perbaikan. Ia menyambut bantuan pemerintah karena perbaikan fasilitas dinilai dapat mendukung kegiatan pembelajaran.
“Alhamdulillah dengan adanya revit, yang asalnya bangunannya kurang baik bisa dibantu dengan adanya revit dari pemerintah,” kata Arief.

Menurut Arief, pekerjaan yang berlangsung mencakup lima bangunan kelas, satu bangunan ruang guru, dan empat toilet. Sekolah memiliki sekitar 280 siswa. Perbaikan fasilitas sanitasi menjadi bagian penting karena toilet merupakan fasilitas dasar yang berkaitan langsung dengan kenyamanan dan kesehatan lingkungan sekolah.

Arief mengatakan empat toilet tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan siswa. Namun, ia juga menyampaikan masih terdapat kebutuhan lain yang belum tertangani melalui pekerjaan saat ini, terutama penambahan ruang kelas.
“Pinginnya mah ditambah lagi ruangan, ruang kelas,” ujar Arief.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa revitalisasi fisik sekolah memiliki persoalan yang lebih luas daripada memperbaiki bangunan yang telah ada. Ketika jumlah siswa membutuhkan dukungan ruang belajar yang memadai, penambahan ruang kelas menjadi kebutuhan yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan pendidikan berikutnya.

Pekerjaan revitalisasi saat wawancara berlangsung telah berjalan sekitar enam hari. Pihak sekolah menyebut pekerjaan ditargetkan selesai dalam waktu delapan hari. Cepatnya waktu pengerjaan membuat pengawasan terhadap mutu pekerjaan menjadi penting, terutama agar penyelesaian fisik tidak mengabaikan standar konstruksi dan kualitas material.

Nilai anggaran Rp1,22 miliar juga menempatkan proyek tersebut sebagai belanja publik yang perlu dipertanggungjawabkan secara terbuka. Papan informasi proyek merupakan salah satu bentuk transparansi, tetapi keterbukaan tidak berhenti pada pencantuman angka anggaran. Masyarakat memiliki kepentingan untuk mengetahui apakah pekerjaan sesuai dengan rancangan, spesifikasi teknis, volume pekerjaan, serta hasil yang dijanjikan.

Dalam konteks pendidikan, kualitas bangunan memiliki konsekuensi langsung terhadap proses belajar. Ruang kelas yang aman dan nyaman dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi siswa dan guru. Sebaliknya, pembangunan fisik yang tidak memenuhi standar berpotensi membuat anggaran yang besar tidak menghasilkan manfaat optimal dalam jangka panjang.

Karena itu, revitalisasi SDN Karangtanjung perlu dilihat dalam dua ukuran sekaligus. Ukuran pertama adalah penyelesaian pekerjaan fisik sesuai perencanaan. Ukuran kedua adalah manfaat yang benar-benar diterima warga sekolah setelah proyek selesai. Keduanya tidak dapat dipisahkan jika tujuan akhirnya adalah meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

Respons orangtua siswa, menurut Arief, juga positif terhadap perbaikan sekolah. Mereka berharap kondisi bangunan yang lebih baik dapat meningkatkan keamanan dan kenyamanan anak selama mengikuti kegiatan pendidikan.

Harapan itu sekaligus menjadi alasan mengapa pengawasan publik terhadap proyek perlu dilakukan secara proporsional. Pemerintah sebagai pengelola program, pelaksana pekerjaan, sekolah, dan masyarakat memiliki kepentingan yang sama untuk memastikan fasilitas yang dibangun dapat digunakan secara aman dan berkelanjutan.

Revitalisasi SDN 1 Karangtanjung pada akhirnya memperlihatkan bahwa pembangunan pendidikan tidak berhenti pada alokasi anggaran. Rp1,22 miliar harus diterjemahkan menjadi bangunan yang sesuai perencanaan, fasilitas yang berfungsi, dan lingkungan belajar yang lebih baik. Sementara kebutuhan penambahan ruang kelas menunjukkan bahwa pekerjaan yang berlangsung saat ini merupakan bagian dari proses pemenuhan sarana pendidikan yang masih membutuhkan perhatian.

Bagi siswa dan orangtua di Karangtanjung, ukuran keberhasilannya sederhana: apakah setelah pekerjaan selesai sekolah menjadi lebih aman, nyaman, dan mampu mendukung pembelajaran. Pertanyaan itu akan menemukan jawabannya bukan pada besarnya anggaran, melainkan pada kualitas hasil pembangunan dan manfaatnya bagi kehidupan sekolah sehari-hari.

Reporter : Komala

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....