MELINTASI BATAS UTARA-SELATAN: JALAN SUNYI UTUSAN RONGGA JEMPUT HARAPAN DI LEMBANG

Jurnalis9.com Juli 2026. ​Jalan raya yang membelah Kabupaten Bandung Barat bukanlah sekadar bentangan aspal. Bagi mereka yang paham arti sebuah pengharapan, jalan berliku itu adalah urat nadi kemanusiaan. Dari lekuk perbukitan Rongga di ujung selatan yang berhawa hangat, melintasi rimbunnya kota, hingga menanjak ke puncak Lembang yang berkabut dingin di utara, terbentang jarak puluhan kilometer yang memisahkan dua dunia. Namun, pada suatu hari yang hening, jarak yang teramat jauh itu runtuh oleh kepedulian yang tak mengenal batas wilayah.

​Sebuah perjalanan sunyi dilakukan oleh utusan dari Rongga. Mereka bukan membawa misi politik atau niaga, melainkan mengemban amanah suci: menjemput sepasang “kaki baru” bagi dua jiwa yang terbelenggu sepi di pelosok desa.

​Perjalanan dari Selatan Menuju Utara

​Semua bermula dari Kampung Cijambu, Desa Cinengah, Kecamatan Rongga. Di sana, di balik dinding-dinding kayu yang mulai menua, raga-raga renta menjalani hari dalam keterbatasan. Salah satunya adalah Bapak Dayat Wibisana (67 tahun), yang setiap langkahnya kini harus ditopang oleh tongkat besi berkaki tiga, serta seorang warga lainnya di Rongga yang bernasib serupa. Bagi mereka, halaman rumah adalah batas terjauh yang bisa dijangkau oleh sisa-sisa kekuatan fisik yang kian menguap.

​Kabar tentang kesunyian di Rongga ini tidak menguap begitu saja. Melalui sebuah pesan singkat (Direct Message) di jagat maya TikTok, rintihan senyap dari selatan itu sampai ke jemari Maya Ekawati, Ketua Posyandu yang juga istri Camat Lembang. Komitmen sosial yang tulus tak butuh birokrasi yang rumit; begitu pesan itu terbaca, gayung pun bersambut.

​Namun, jarak geografis tetap menjadi tantangan nyata. Alih-alih menunggu bantuan diantarkan yang mungkin memakan waktu, sebuah keputusan penuh ketulusan diambil. Utusan dari Rongga bersedia menempuh perjalanan jauh. Mereka bergerak dari selatan, membelah wilayah perbukitan yang terjal, melintasi kota, hingga tiba di batas utara, Lembang. Perjalanan melelahkan ini dilakukan demi menjemput dua unit kursi roda yang telah disiapkan secara khusus oleh Ibu Camat Lembang.

​Jembatan Empati yang Meruntuhkan Jarak

​Pertemuan di Lembang menjadi momen yang sarat akan haru. Di sana, dinginnya udara gunung seolah mencair oleh kehangatan sambutan hangat dari Maya Ekawati. Saat dua pasang kursi roda berbahan besi kokoh itu diserahterimakan kepada utusan Rongga, ada rasa lega yang tak terlukiskan terpancar dari wajah-wajah yang lelah setelah menempuh perjalanan panjang.

​Pemberian ini menjadi bukti otentik bahwa misi kemanusiaan yang digerakkan dari Lembang tidak pernah egois membatasi diri. Dari Parongpong, Ngamprah, hingga kini menembus batas terjauh di Kecamatan Rongga, kursi-kursi roda ini dikirimkan sebagai wujud nyata bahwa setiap warga di mana pun mereka berada berhak untuk mendapatkan martabat hidup yang layak.

​”Ketika jarak fisik terasa begitu jauh, empati dan kasih sayang selalu menemukan jalannya untuk mendekatkan kita,” bisik nurani yang hadir dalam pertemuan tersebut.

​Dua kursi roda itu kini telah dinaikkan ke atas kendaraan, siap menempuh perjalanan pulang kembali ke selatan. Mereka akan menyusuri jalan berliku yang sama, namun kali ini dengan membawa beban yang jauh lebih ringan: harapan.

​Bagi Bapak Dayat di Kampung Cijambu dan tetangganya, kepulangan sang utusan adalah jawaban atas doa-doa panjang yang mereka titipkan pada angin malam. Esok hari, saat matahari terbit di ufuk Rongga, mereka tidak lagi hanya bisa memandangi dunia dari balik jendela kamar. Di atas kursi roda yang dijemput dengan peluh dan ketulusan melintasi utara-selatan ini, mereka akan kembali merengkuh kehangatan dunia luar dengan senyuman baru.

Reporter : Komala

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....