Lomba Kemerdekaan Demokrat Bandung Barat dan Ujian Kedekatan dengan Warga

Jurnalis9.com Bandung Barat, 23 Agustus 2026 Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kampung Ciharashas, Desa Margajaya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, berlangsung dengan lomba rakyat yang melibatkan pengurus dan anggota Fraksi Partai Demokrat. Tarik tambang, bakiak, balap kerupuk, balap karung, hingga panjat pinang menjadi bagian dari kegiatan yang mempertemukan partai politik dengan warga di tingkat lingkungan.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Bandung Barat Dr. H. RM. Imam Tunggara, Sekretaris DPC Pither Tjuandys, Bendahara DPC Liwa Ulhamdi, serta anggota Fraksi Partai Demokrat RM. Hasbi Pratama dan Asep Sopyan ZA. Ketua DPAC Partai Demokrat Kecamatan Ngamprah Iwan Setiawan juga hadir bersama masyarakat dan unsur kepemudaan setempat.

Dari sisi kegiatan, lomba kemerdekaan bukan hal baru. Namun, ketika sebuah partai politik mengambil ruang di tengah kegiatan warga, persoalannya tidak berhenti pada kemeriahan lomba. Ada pertanyaan yang lebih substantif: sejauh mana kedekatan tersebut mampu diterjemahkan menjadi komunikasi publik dan penyerapan aspirasi yang nyata.

Imam Tunggara mengatakan kegiatan di Margajaya merupakan bagian dari rangkaian kegiatan DPC Partai Demokrat Kabupaten Bandung Barat dalam menyambut HUT ke-25 Partai Demokrat dan HUT ke-81 RI. Sebelumnya, partai melakukan kegiatan sosial dan lingkungan sejak 10 Juli 2026, seperti kerja bakti, membersihkan masjid dan mushala, serta memberikan santunan kepada anak yatim.

“Kita bergabung, berkolaborasi dengan seluruh masyarakat yang ada di Desa Margajaya, khususnya RW 5,” kata Imam.

Pernyataan tersebut menunjukkan upaya partai membangun pola hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat. Tetapi kedekatan politik memiliki ukuran yang lebih jauh daripada sekadar kehadiran fisik. Ukurannya terletak pada kemampuan mendengar persoalan warga, memilah aspirasi, lalu memastikan persoalan yang relevan dapat dibawa ke ruang kebijakan.

Imam menyebut pengurus dan anggota partai menggunakan kegiatan tersebut untuk berbincang dengan masyarakat. Aspirasi dan keluhan warga, menurut dia, dapat menjadi bahan untuk disampaikan kepada pemerintah daerah. Pernyataan ini sekaligus menempatkan kegiatan sosial sebagai salah satu jalur komunikasi politik di luar ruang formal lembaga legislatif.

Keterlibatan anggota dewan dalam lomba tarik tambang memperlihatkan pendekatan yang lebih cair. Anggota legislatif berada dalam posisi yang sama dengan warga sebagai peserta lomba. Cara seperti ini dapat mengurangi jarak simbolik antara wakil rakyat dan masyarakat yang memilihnya.

Sekretaris DPC Partai Demokrat Kabupaten Bandung Barat Pither Tjuandys mengatakan masyarakat mempunyai posisi penting dalam kehidupan demokrasi. Ia menekankan perlunya anggota dewan menjaga hubungan dengan warga karena mandat politik berasal dari masyarakat.
“Demokrat itu selalu hadir bersama masyarakat,” kata Pither.

Bendahara DPC Partai Demokrat Kabupaten Bandung Barat Liwa Ulhamdi juga menilai kegiatan tersebut sebagai bentuk keterlibatan langsung partai dengan warga. Ia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara rutin setiap tahun.

Di sisi lain, panjat pinang dengan hadiah seperti televisi, sepeda, kulkas, kompor gas, dan sejumlah hadiah lain memberikan daya tarik tersendiri bagi warga. Doorprize berupa dispenser, kipas angin, televisi, dan perlengkapan rumah tangga juga disiapkan panitia.

Namun, besarnya hadiah bukan ukuran utama keberhasilan kegiatan. Nilai yang lebih penting berada pada kualitas interaksi setelah perlombaan selesai. Jika hubungan dengan warga hanya berhenti pada pembagian hadiah dan kegiatan hiburan, manfaat publiknya akan terbatas.
Ketua DPAC Partai Demokrat Kecamatan Ngamprah Iwan Setiawan mengatakan masyarakat memberikan respons antusias. Ia berharap hubungan antara Partai Demokrat dan masyarakat dapat terus berkembang melalui kolaborasi di tingkat lokal.

Rangkaian kegiatan yang direncanakan Partai Demokrat di sejumlah daerah pemilihan akan menjadi pengujian berikutnya. Konsistensi turun ke masyarakat perlu disertai mekanisme yang jelas dalam mencatat, menindaklanjuti, dan menjelaskan perkembangan aspirasi warga.

Bagi masyarakat, ruang komunikasi semacam itu tetap penting selama berlangsung terbuka dan tidak mengurangi kebebasan warga dalam menentukan pilihan politik. Bagi partai, kedekatan dengan rakyat akan lebih bermakna apabila menghasilkan kerja yang dapat dirasakan setelah panggung lomba selesai.

Pada akhirnya, lomba kemerdekaan di Margajaya memperlihatkan satu hal sederhana: politik dapat hadir dalam ruang sosial masyarakat tanpa harus selalu tampil dalam bahasa politik formal. Tantangannya adalah memastikan kehadiran itu tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Ukuran keberhasilannya justru terlihat ketika suara warga yang didengar di lapangan mampu bergerak menjadi aspirasi yang diperjuangkan melalui jalur kelembagaan dan kebijakan publik.

Reporter : A.Wana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....