Jurnalis9.com Lembang, 5 Juli 2026. Car Free Day (CFD) Jajaway (Jajan Jalan On The Way) di kawasan Sukarasa, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, memasuki pelaksanaan ketiga dengan capaian yang semakin terlihat. Kegiatan yang pada awalnya diposisikan sebagai ruang olahraga masyarakat kini berkembang menjadi titik pertemuan berbagai kepentingan publik, mulai dari pemberdayaan usaha mikro, pelestarian seni tradisional, hingga penyampaian edukasi mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Perubahan itu tampak dari meningkatnya jumlah pengunjung, bertambahnya pelaku UMKM yang ikut berjualan, serta keterlibatan pemerintah pusat melalui kehadiran Staf Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Julianti. Kehadiran perwakilan kementerian tidak hanya memberi warna baru pada kegiatan senam bersama, tetapi juga memperluas fungsi CFD sebagai ruang penyampaian informasi program pemerintah secara langsung kepada masyarakat.
Ibu Masayu, istri dari Anggota DPRD Bandung Barat, Bapak Dedi Hernawan, yang menjadi salah satu penggagas CFD Jajaway sekaligus instruktur senam, menilai kolaborasi tersebut membawa dampak positif bagi perkembangan kegiatan yang baru berjalan selama tiga pekan itu.
“Saya sangat senang sekali. Kehadiran Ibu Julianti di sini membawa banyak sisi positif. Ini merupakan suatu kehormatan bagi kami di CFD Jajaway. Apalagi tadi juga ada pembagian makanan tambahan untuk ibu-ibu,” ujarnya.
Masayu juga mengaku memperoleh banyak pengalaman dari kolaborasi bersama instruktur senam yang telah lama berkecimpung dalam berbagai kegiatan pembinaan masyarakat. “Pengalaman yang saya ambil terutama cara mengajar dan berinteraksi dengan peserta karena beliau biasa mengajar di berbagai instansi. Banyak sekali yang bisa dipelajari,” katanya.
Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah peserta senam yang melampaui perkiraan panitia. Bantuan makanan tambahan yang disiapkan untuk sekitar 100 orang tidak mampu memenuhi seluruh peserta yang hadir.
Fenomena tersebut menjadi indikator bahwa CFD Jajaway mulai dikenal lebih luas. Pengunjung tidak lagi hanya berasal dari Desa Cibodas, tetapi juga datang dari Desa Suntenjaya, Cikawari, hingga wilayah lain di Kecamatan Lembang.
Masayu menilai konsep yang memadukan olahraga, suasana alam pegunungan, serta aktivitas kuliner menjadi daya tarik tersendiri. Menurutnya, masyarakat memperoleh alternatif ruang berkumpul yang sehat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi warga setempat.
Dari sisi pemerintah pusat, Julianti menyampaikan apresiasinya terhadap tingginya partisipasi masyarakat. Target awal peserta yang diperkirakan sekitar 100 orang ternyata terlampaui. “Bagus banget, antusiasmenya luar biasa. Target awal kami hanya 100 peserta, ternyata kurang. Selain melihat acaranya, tujuan utama kami memang sosialisasi program MBG,” ujarnya.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu program nasional yang diarahkan untuk memperkuat pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak usia sekolah. Dalam pelaksanaannya, pemerintah juga memanfaatkan berbagai kegiatan masyarakat sebagai media edukasi agar pemahaman mengenai program tersebut semakin luas.
Julianti menjelaskan, kunjungan ke Desa Cibodas belum menjadi agenda rutin karena tim kementerian masih memiliki jadwal sosialisasi di berbagai daerah. “Kami akan bergiliran ke sejumlah wilayah, mulai dari Sukabumi, Bogor, hingga Jakarta. Kalau ada permintaan dari daerah lain, tentu akan disesuaikan dengan jadwal,” katanya.
Ia juga menilai kemampuan peserta senam di Desa Cibodas cukup baik sehingga mampu mengikuti instruksi dengan kompak.
Sementara itu, Ketua Karang Taruna Desa Cibodas sekaligus panitia CFD Jajaway, Deden, mengungkapkan bahwa lonjakan pengunjung memberi dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Jika pada pelaksanaan pertama hanya terdapat sekitar 78 pelaku UMKM, jumlah itu meningkat menjadi lebih dari 180 pada pekan kedua. Pada pelaksanaan ketiga, panitia mencatat sekitar 230 pelaku usaha ikut berpartisipasi. Menurut Deden, sebagian besar pedagang mengaku dagangannya habis terjual sebelum kegiatan berakhir.
“Estimasi sementara omzet mencapai lebih dari Rp230 juta. Data ini masih terus kami perbarui karena belum seluruh pedagang menyampaikan laporannya,” ujarnya.
Panitia memperkirakan jumlah pengunjung sejak pukul 07.00 hingga 10.00 WIB mencapai sekitar 3.000 hingga 4.000 orang. Berdasarkan pendapatan parkir yang dikelola Karang Taruna, angka kunjungan diperkirakan mendekati 5.000 orang sepanjang kegiatan berlangsung.
Jika angka tersebut mendekati kondisi riil, CFD Jajaway bukan lagi sekadar agenda mingguan tingkat desa. Aktivitas itu mulai menunjukkan karakter sebagai pusat keramaian baru yang mampu menarik mobilitas masyarakat lintas desa dalam waktu relatif singkat.
Namun, pertumbuhan jumlah pengunjung juga menghadirkan tantangan baru. Ketersediaan fasilitas umum, kapasitas area parkir, pengelolaan lalu lintas, hingga sistem pengelolaan sampah akan menjadi faktor penting apabila kegiatan ini terus berkembang.
Aspek lain yang ikut memperkaya pelaksanaan CFD adalah hadirnya pertunjukan seni tradisional Sisingaan dari Bintang Jaya Mandiri. Atraksi budaya tersebut membuat pengunjung bertahan lebih lama dibandingkan pekan sebelumnya. Kehadiran mereka di CFD Jajaway menunjukkan bahwa ruang publik juga dapat dimanfaatkan sebagai panggung kebudayaan yang mudah diakses masyarakat.
Panitia berencana menghadirkan inovasi baru pada pelaksanaan berikutnya. Selain mempertahankan kegiatan senam dan bazar UMKM, sejumlah hiburan rakyat serta pertunjukan seni lokal akan ditambah agar pengunjung memiliki lebih banyak pilihan aktivitas.
Perkembangan CFD Jajaway dalam tiga pelaksanaan terakhir memperlihatkan satu pelajaran penting. Sebuah kegiatan masyarakat dapat berkembang menjadi penggerak ekonomi lokal apabila mampu menghubungkan berbagai unsur secara seimbang, yakni partisipasi warga, pelaku usaha, komunitas seni, pemerintah, dan organisasi kepemudaan.
Di sisi lain, keberhasilan tersebut juga menuntut pengelolaan yang semakin profesional. Pertumbuhan jumlah pengunjung harus diikuti peningkatan kualitas pelayanan, keamanan, kebersihan, pengaturan kawasan, serta evaluasi yang dilakukan secara berkala. Tanpa pengelolaan yang baik, lonjakan pengunjung justru berpotensi menimbulkan persoalan baru.
Karena itu, keberlanjutan CFD Jajaway tidak cukup diukur dari ramainya pengunjung setiap akhir pekan. Ukuran keberhasilannya terletak pada kemampuan kegiatan ini menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi masyarakat, pelestarian budaya, edukasi publik, dan kenyamanan ruang bersama. Jika keseimbangan itu dapat dipertahankan, CFD Jajaway berpeluang berkembang menjadi salah satu contoh pemberdayaan masyarakat berbasis kolaborasi yang lahir dari tingkat desa dan memberi manfaat yang lebih luas bagi Kabupaten Bandung Barat.
<ul>
<li>Javascript not detected. Javascript required for this site to function. Please enable it in your browser settings and refresh this page.</li>
</ul>