Sebelum Waktu Berhenti: 8 Penyesalan Setelah Kematian yang Telah “Diingatkan” Al-Qur’an

​Jurnalis9.com Pernahkah Anda terbangun di sepertiga malam, mendengar detik jam dinding yang berdegup konstan, lalu tiba-tiba menyadari betapa ringkihnya hidup ini? Di tengah hiruk-pikuk dunia yang menuntut kita untuk mengejar segala hal yang tampak berkilau—harta, takhta, tren, dan pengakuan manusia—kita sering kali lupa bahwa ada sebuah gerbang mutlak yang sedang menanti: kematian. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah kesadaran yang teramat terlambat bagi jiwa-jiwa yang lalai.

​Allah Swt. dengan segala kasih sayang-Nya tidak membiarkan hamba-Nya meraba-raba dalam ketidaktahuan. Melalui Al-Qur’anul Karim, Allah telah memberikan “spill” atau bocoran berharga mengenai penyesalan-penyesalan terbesar manusia kelak setelah nyawa terlepas dari raga. Bocoran ini diturunkan bukan untuk menakut-nakuti tanpa alasan, melainkan sebagai kompas penunjuk arah agar kita tidak menapaki lubang kehancuran yang sama.

​Mari kita tundukkan hati sejenak dan merenungi delapan penyesalan pasca-kematian yang telah diabadikan dalam firman-Nya.

1. Menyesali Pertemanan yang Sia-sia

​Banyak dari kita yang mengira bahwa lingkaran pertemanan hanyalah urusan kesenangan duniawi, hobi, atau jaringan bisnis semata. Namun, di akhirat kelak, teman akrab yang saling mendukung dalam kelalaian akan berubah menjadi musuh yang paling nyata. Penyesalan ini lahir dari jiwa yang tersadar bahwa ia telah menjauh dari petunjuk Allah akibat terpengaruh oleh karibnya. Allah mengabadikan jeritan penyesalan ini:

“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku dulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.”

(Q.S. Al-Furqan [25]: 28-29)

2. Menyesal karena Mempersekutukan Allah

​Kesyirikan sering kali menyusup ke dalam hati dalam bentuk yang sangat halus. Ketika kita menaruh sandaran hidup, harapan, ketakutan, dan ketaatan mutlak kepada makhluk—baik itu harta, atasan, maupun figur manusia—melebihi Allah, saat itulah kita sedang mengikis ketauhidan kita. Saat tirai dunia tersingkap, segala tandingan yang dahulu diagungkan akan sirna tak berbekas, menyisakan ratapan:

“Aduhai, kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku.”

(Q.S. Al-Kahfi [18]: 42)

3. Menyesal karena Tidak Taat kepada Allah dan Rasul

​Menolak perintah Allah dan enggan meneladani Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bentuk kerugian yang paling nyata. Di hari pembalasan, saat wajah-wajah tertunduk lesu di dalam pedihnya siksaan, barulah timbul angan-angan kosong untuk kembali taat.

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat pula kepada Rasul’.”

(Q.S. Al-Ahzab [33]: 66)

4. Meratap dan Berkata, “Alangkah Baiknya Dahulu Aku Jadi Tanah”

​Peringatan demi peringatan yang disampaikan melalui para da’i, mushaf Al-Qur’an, hingga teguran musibah sering kali lewat begitu saja di telinga manusia yang bebal. Kelak, ketika kebenaran hakiki terpampang nyata di depan mata, beratnya pertanggungjawaban (hisab) membuat orang-orang kafir berandai-andai andai mereka hanyalah benda mati atau tanah yang tidak dihisab.

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah’.”

(Q.S. An-Naba’ [78]: 40)

5. Menyesali Harta dan Kekuasaan yang Sia-Sia

​Harta yang ditumpuk-tumpuk tanpa zakat dan sedekah, serta kekuasaan yang digunakan untuk kesewenang-wenangan dan maksiat, sama sekali tidak akan mampu menebus diri dari azab Allah. Jabatan dan kekayaan yang dahulu dibanggakan di dunia berubah menjadi jeruji besi yang membelenggu.

“Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku.” (Allah berfirman), “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.”

(Q.S. Al-Haqqah [69]: 28-31)

6. Menyesal karena Tidak Beriman kepada Al-Qur’an

​Mendustakan kebenaran ayat-ayat Allah dan berpaling darinya demi kepuasan nafsu sesaat akan mendatangkan penyesalan yang sangat mengharukan ketika jiwa-jiwa pembangkang itu dihadapkan langsung ke bibir neraka.

“Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman,’ tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan.”

(Q.S. Al-An’am [6]: 27)

7. Menyesal karena Melalaikan Shalat dan Terjebak Kemaksiatan Sosial

​Neraka Saqar memiliki sebuah ruang interogasi tersendiri bagi orang-orang yang semasa hidupnya meremehkan tiang agama (shalat), bersikap bakhil kepada orang miskin, sibuk bergunjing membicarakan kebatilan (hoaks, ghibah, fitnah), serta menepis keyakinan akan adanya Hari Pembalasan.

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan.”

(Q.S. Al-Muddatsir [74]: 42–46)

8. Penyesalan Terbesar: Tidak Memperbanyak Sedekah

​Di antara sekian banyak amalan saleh, mengapa orang yang berada di ambang kematian justru secara spesifik meminta ditangguhkan ajalnya hanya demi untuk bisa bersedekah? Para ulama menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena mereka telah melihat betapa dahsyatnya pahala dan cahaya amalan sedekah yang mampu menaungi manusia di alam barzakh.

​Allah Ta’ala berfirman:

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?'”

(Q.S. Al-Munāfiqūn [63]: 10)

​Namun sayang, ketetapan Allah tidak pernah bergeser meski sekejap mata. Ketika ajal menjemput, runtuhlah segala pintu negosiasi.

​<p align=”right” dir=”rtl” style=”font-size: 18px; font-family: ‘Traditional Arabic’, serif;”>وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ 🤦سًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ</p>

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(Q.S. Al-Munāfiqūn [63]: 11)

Penutup: Membeli Masa Depan Sebelum Terlambat

​Sahabat pembaca yang dirahmati Allah, tulisan ini tidak hadir untuk membuat kita putus asa atau ketakutan yang melumpuhkan. Tulisan ini adalah sebuah alarm yang lembut namun tegas. Selagi detak jantung masih berdenyut, selagi embusan napas masih mengalir bebas keluar masuk rongga dada kita, pintu taubat dan perbaikan diri terbuka selebar-lebarnya.

​Kita masih memiliki hari ini untuk memperbaiki lingkaran pertemanan kita, menegakkan shalat yang bolong-bolong, menahan lisan dari ghibah, dan mengulurkan tangan untuk bersedekah. Mari kita ketuk pintu rahmat-Nya dengan untaian doa yang mendalam ini:

Doa Refleksi Diri:

Ya Allah, Ya Hayyu Ya Qayyum.

Berikanlah kami petunjuk dan As-Saddad (kemampuan optimal untuk mencocoki Al-Qur’an dan Sunnah agar selalu berada di atas hidayah-Mu).

Rahmatilah keasingan kami di dunia ini, Ya Rabb. Selamatkanlah kami dari kegelapan dan kesedihan di dalam kubur kami kelak, dan rahmatilah kami ketika kami harus berdiri tegak bersimpuh di hadapan-Mu.

Jadikanlah petunjuk-Mu sebagai satu-satunya jalan kami. Jadikanlah sisa kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagi kami dalam segala bentuk kebaikan, dan jadikanlah kematian kami kelak sebagai kebebasan dan peristirahatan kami dari segala bentuk kejahatan dunia.

Wallahu a’lam bish-shawab.

​Oleh : Ustadz Hikmat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....