Saat Musim Kemarau Suhu Bandung Menurun, Lembang 13,4 derajat Celsius, Pernah 11 derajat Celsius

Jurnalis9.com Bandung, 29 Juli 2026. Udara dingin yang menyelimuti Bandung dan kawasan sekitarnya dalam beberapa pekan terakhir kembali menjadi perbincangan masyarakat. Pada malam hingga menjelang pagi, suhu terasa lebih rendah dibandingkan hari-hari biasa. Meski memunculkan kesan ekstrem, kondisi tersebut sesungguhnya masih berada dalam pola iklim yang lazim terjadi ketika musim kemarau mencapai fase awal hingga pertengahan.

Data pengamatan meteorologi menunjukkan suhu minimum di Kota Bandung selama periode 1–18 Juli 2026 mencapai 16,4 derajat Celsius. Angka itu masih berada di atas batas normal suhu minimum klimatologis yang berkisar 15,4 derajat Celsius. Sementara itu, Pos Pengamatan Lembang mencatat suhu yang lebih rendah, yakni 13,4 derajat Celsius, memperlihatkan pengaruh kuat perbedaan ketinggian wilayah terhadap kondisi udara.

Fenomena yang dikenal masyarakat sebagai bediding merupakan hasil interaksi sejumlah faktor atmosfer. Ketika musim kemarau berlangsung, tutupan awan cenderung berkurang sehingga sinar matahari dapat mencapai permukaan bumi secara maksimal pada siang hari. Permukaan tanah kemudian menyerap energi panas dalam jumlah besar. Namun, ketika malam tiba, energi tersebut dilepaskan kembali ke atmosfer tanpa banyak terhalang lapisan awan. Akibatnya, pendinginan berlangsung lebih cepat dan suhu udara turun secara signifikan.

Proses tersebut merupakan mekanisme alam yang berulang setiap musim kemarau. Langit yang cerah memang membuat siang hari terasa hangat, tetapi kondisi yang sama justru mempercepat pelepasan panas saat malam. Semakin sedikit tutupan awan, semakin besar pula energi yang hilang dari permukaan bumi. Dampaknya paling terasa menjelang dini hari ketika suhu mencapai titik terendah.

Selain dipengaruhi kondisi atmosfer lokal, penurunan suhu di wilayah Bandung juga berkaitan dengan sirkulasi udara berskala regional. Pada periode ini, Australia sedang memasuki musim dingin. Tekanan udara yang lebih tinggi di kawasan tersebut mendorong aliran angin monsun Australia menuju Indonesia bagian selatan. Angin ini membawa massa udara yang relatif dingin dan kering sehingga memperkuat penurunan suhu di berbagai daerah, termasuk Jawa Barat.

Kombinasi udara kering dari Australia dan minimnya tutupan awan menjadi faktor utama yang membentuk karakter cuaca selama musim kemarau. Meski demikian, kondisi tersebut tidak berlangsung setiap hari. Dinamika atmosfer yang berubah dari waktu ke waktu membuat intensitas udara dingin dapat meningkat ataupun melemah sesuai perkembangan cuaca harian.

Topografi Bandung Raya turut memperkuat variasi suhu antardaerah. Wilayah yang berada pada elevasi lebih tinggi secara alami memiliki temperatur lebih rendah dibandingkan kawasan yang berada di dasar Cekungan Bandung. Dalam ilmu meteorologi dikenal kaidah bahwa setiap kenaikan ketinggian sekitar 100 meter menyebabkan suhu rata-rata turun sekitar 0,6 derajat Celsius. Karena itu, kawasan seperti Lembang, Ciwidey, dan Pangalengan hampir selalu mencatat suhu lebih rendah dibanding pusat Kota Bandung.

Perbedaan karakter bentang alam tersebut juga menjelaskan mengapa udara dingin tidak dirasakan dengan intensitas yang sama di seluruh wilayah Bandung Raya. Kawasan pegunungan memiliki peluang lebih besar mengalami suhu minimum yang rendah, terutama ketika langit cerah sepanjang malam dan kelembapan udara menurun.

Pada kondisi tertentu, suhu di kawasan dataran tinggi bahkan dapat mendekati titik yang memungkinkan terbentuknya embun beku atau embun upas. Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan turun hingga sekitar 4 derajat Celsius, membuat butiran embun berubah menjadi kristal es. Peristiwa seperti itu pernah tercatat di kawasan Ciwidey dan secara teoritis masih dapat terulang apabila kondisi atmosfer mendukung, terutama di wilayah dengan elevasi tinggi.

Dampak udara dingin tidak hanya dirasakan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari. Sektor pertanian hortikultura menjadi salah satu bidang yang paling sensitif terhadap penurunan suhu. Tanaman tertentu dapat mengalami gangguan pertumbuhan apabila suhu turun terlalu rendah dalam waktu cukup lama. Sebaliknya, sektor pariwisata justru memperoleh manfaat karena udara sejuk menjadi daya tarik utama kawasan pegunungan selama musim kemarau.

Catatan klimatologi juga memperlihatkan bahwa Bandung pernah mengalami suhu yang jauh lebih rendah dibandingkan kondisi sekarang. Pada dekade 1990-an, suhu minimum di wilayah ini sempat mencapai kisaran 11 hingga 12 derajat Celsius pada bulan Juli. Dibandingkan data historis tersebut, suhu minimum 16,4 derajat Celsius yang tercatat di Kota Bandung tahun ini masih berada dalam rentang normal dan belum menunjukkan penyimpangan iklim.

Fenomena bediding mengingatkan bahwa perubahan cuaca musiman kerap menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat. Rasa dingin yang lebih kuat belum tentu mencerminkan kondisi cuaca ekstrem ataupun perubahan iklim yang bersifat permanen. Dalam konteks Bandung Raya, penurunan suhu lebih banyak dipengaruhi interaksi antara musim kemarau, angin monsun Australia, serta karakter topografi yang telah lama membentuk iklim kawasan ini. Selama faktor-faktor tersebut masih berlangsung, udara dingin pada malam hingga pagi hari akan tetap menjadi bagian dari siklus tahunan yang wajar, meskipun intensitasnya dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer. -red-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....